Borderline

Tidak banyak yang tahu kalau saya mempunyai skenario cadangan. Mungkin hampir mirip dengan film-film yang beredar. Dan entah kenapa tampak mudah. Mungkin karena itu hanya sebuah film.

Berkemas, memasukkan semua barang yang diperlukan ke dalam sebuah tas carrier. Yang mungkin banyak meninggalkan barang-barang penting non-sentimental.

Dengan identitas baru dan dokumen penunjang lainnya sudah dipersiapkan. Entah dari mana dan kapan dibuat. Kemudian adegan menutup pelan pintu sembari melihat isi kamar untuk kali terakhirnya.

Ya terkadang saya ingin melakukan itu.

Tetapi mungkin saya tidak seberani itu. Entahlah. Banyak jawaban yang saya sendiri tidak tahu kenapa saya tidak seberani itu. Meskipun peluang untuk bisa seperti itu sangat lebar.

Mungkin lebih sering terngiang-ngiang dua hingga tiga tahun terakhir.

Yang ada di pikiran saya semacam mengunjungi tempat yang membutuhkan bantuan di negara konflik. Apakah saya tidak takut mati? Entah. Semacam taboo.

Atau setidaknya pindah kota. Mungkin Jogjakarta adalah pilihan tepat setelah sekian lama saya ada di Kota Malang. Serasa homey.

Kemudian yang saya lakukan adalah mencari pekerjaan baru. Entah apa yang akan saya cari. Saya masih belum tahu. Dan juga sepertinya tidak seseru dari sebuah film yang saya tonton. Haha lazy writing.


Sebuah skenario melewati batas sebuah identitas.

Photo by Cole Patrick on Unsplash

Satu pemikiran pada “Borderline

  1. Jadi anak rantau di kota yg jauh itu cukup menyenangkan kok. Exciting, tp kadang memang ada perasaan ‘sepi di tengah keramaian’. Bahkan bagi introverts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s