Dari Sebuah Tanya

Pada tahun 2011, ada sebuah “project kecil” yang batal saya lakukan. Tapi di luar itu ada sebuah momen 3 detik yang membuat saya diam sejenak. Membuat saya sedikit semangat. Hanya dari sebuah kalimat tanya.

Waktu itu adik kelas ingin meminta bantuan kakak tingkat Kelas Bahasa yang sudah lulus. Beruntung kakak tingkat yang di atas saya masih berkenan berpikir mengenai sumbangan acara untuk Bulan Bahasa SMA kami.

Untuk memasukkan ide tersebut, kami harus berkonsultasi dengan Guru Sastra Indonesia yang sangat dominan membawa nama Jurusan Bahasa.

Beliau bernama Bapak Agus Harianto.

Dari rombongan yang datang untuk menemui Pak Agus, angkatan saya adalah angkatan tengah. Angkatan atas saya paling tersohor dengan karya-karyanya yang sempat menembus ke negara lain. Dan mungkin angkatan bawah saya lebih familiar di mata Pak Agus. Karena mungkin nama mereka masih tidak asing karena baru saja lulus.

Satu persatu kami ditanya oleh Pak Agus. Saya adalah dua orang terakhir yang akan diwawancara oleh beliau.

Masing-masing orang bisa bercerita dengan leluasa, apa saja yang mereka lakukan. Kami tertawa dengan ulah masing-masing.

Hingga kemudian, tiba saya yang ditanya. Ketika Pak Agus melihat saya. Beliau tersenyum, dan kemudian mengambil nafas.

“Fandy, inovasi apa yang sudah kamu lakukan hari ini?”

Speechless.

Pertama, saya bukan golongan murid yang populer. Tidak cemerlang, namun juga tidak berbuat onar. Sehingga saya ada di dalam bayang-bayang murid rata-rata.

Yang biasanya guru-guru pada umumnya jauh lebih mengenal murid di kedua itu. Jika kalian ada di dalam bayangan itu. Cukup dikenal melalui muka saja sudah cukup. Haha.

Kedua, “INOVASI?” Bukankah kata ini terlalu berat bagi saya yang baru saja lulus dan bersemayam di sebuah kampus pada waktu itu. Saya bisa apa? (Meski saya lihat sebenarnya saya minim achievement saja. Wakakka)

Mungkin saya sedikit berlebihan. Atau tidak? Yang sebenarnya saya sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Saya sendiri lupa saya menjawab apa waktu itu.

Tapi saya ingat, mata saya hanya menatap kosong sebuah batas antara dinding dan lantai depan kelas yang kami duduki sambil bersila mengitari beliau.

Sesaat kemudian saya hanya ingat tersenyum kepada beliau. Kemudian entah apa.


Mungkin beliau sudah pasti lupa pernah mengucapkan kalimat itu. Tetapi hampir satu dekade. Kalimat beliau saya ingat-ingat. Dan menjadi pacuan saya untuk melakukan banyak hal yang mungkin belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Sebagai anak rumahan, saya minim pengalaman. Saya tidak memiliki banyak pengalaman dasar bersosialisasi dan seterusnya. Saya terbiasa di rumah ketika hari sudah gelap.

Pertanyaan itu menjadikan saya bertanya-tanya dengan hal yang saya lakukan sebelumnya.

Kemudian saya teringat dengan apa saja yang telah saya lewati selama menjadi Arek Bahasa.

Saya pernah menjadi Editor dan Ilustrator sebuah buku yang dicanangkan oleh Pak Agus. Sebagai cinderamata untuk Perpustakaan sekolah.

Jangan anggap itu adalah hal mentereng. Saya hanya mengumpulkan semua karya sastra satu kelas. Dan kemudian dikumpulkan menjadi satu. Yang kemudian saya tata sedemikian rupa halamannya. Hingga menjadi sebuah buku. Lengkap dengan desain sampul buku yang kalau saya ingat, itu adalah sebuah pengalaman bangga dan memalukan.

Mungkin keterbatasan Bahasa Inggris saya waktu itu (sekarang masih Bahasa Inggris pasif, dan belum lulus-lulus, hahaha) saya memakai judul seperti ini: A Whisper from The Wind. Karena Angin tidak Berhenti Berbisik Kepada Dunia.

Hingga akhirnya beliau cetak sendiri ke percetakan buku. Dan diberikan secara simbolik kepada penjaga Perpustakaan.

Dan mungkin karena beliau ingat dengan buku saya yang dikumpulkan sebagai tugas akhir. Beberapa kumpulan cerpen, puisi, resensi, dan drama. Buku saya paling tebal. Desain sampul saya sempat dinobatkan oleh adik kelas “Layak jual”. Ya kepala saya menjadi besar ketika Pak Agus menceritakan di depan kelas.

Green Generation Punya Saya dan Buku Salah Satu Teman geng KTSP 😂

Akhir 2019. Inovasi apa yang sudah saya lakukan? Achievement apa yang sudah saya terima? Saya tidak berani menyodorkan kepada beliau. Tidak ada.

Tapi bukan sebuah kalimat pujian, cukup sebuah pertanyaan. Dari sebuah rasa penasaran seorang Guru Sastra Indonesia, mampu membuat saya selalu menekan sebuah batas yang ada di dalam diri saya.

Boundaries are meant to be pushed. You are the only boundaries.

Itu mungkin menjadi alasan kenapa saya rajin Detox Digital beberapa bulan terakhir. Karena saya menjadi fokus mengerjakan sesuatu.

Terima kasih Pak Agus.

Photo by Trung Pham Quoc on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s