The Durian Theory

Kadang saya sering mendengar sebuah cerita dengan sudut pandang berbeda, dengan sebuah kesimpulan yang menurut masing-masing penggagas cerita, versi dia yang benar. Kemudian berakhir pada sebuah kalimat pertanyaan, “Mana yang paling benar?”

Ini mungkin sebuah teori ngawur yang saya buat dan saya genggam hingga hari ini.

Jika ditelaah, ada tiga versi kebenaran yang saya tahu. CMIIW. Menurut dia/saya, mereka, dan Dia.

Kemudian karena yang paling benar adalah versi Dia YME, maka tersisa dua, versi manusia. Nah sebagai acuan, versi kebenaran menurut manusia ini semacam lelucon, Bahasa Jawanya adalah Dark Lelucon?.

Karena efeknya bisa panjang. Kita tahu bahwa warganet di Indonesia ini terkenal sebagai Keyboard Warrior. Ngetik panjang lebar hanya demi mempertahankan eksistensi sesaaatnya.

Mungkin bagi sebagian makhluk hal yang dilakukannya, yaitu berdebat dengan stranger (apalagi yang bukan stranger) adalah sesuatu yang harus dilakukan. Mandatory?

Sebagian makhluk seperti saya. Itu adalah hal yang tidak sepadan untuk dilakukan.

Mungkin ada hubungannya dengan The 7M Theory yang akan saya bahas nantinya. Tolong diingatkan, hahaha.

Oke, kembali ke The Durian Theory. Teori ini sempat saya pakai ketika “berdebat” dengan Bapak saya. Yang ternyata ditelan secara harfiah, bahwa ini soal makanan. LOL.

Jadi makna Durian di sini not literally sebagai buah. Namun sebagai kebenaran. Mana yang benar. Huh?

Kenapa Durian? TBH, saya tidak suka Buah Durian. Jika kalian sekarang berteriak “Kenapa tidak suka Durian? Durian enak lohhh, salah satu buah yang mahal dan bla bla bla….!”

STOP.

Justru itu adalah pemicu dan pemacu munculnya teori ini.

Dengan kericuhan yang terjadi, entah saya lupa saya sedang “bergurau” dengan siapa saat itu. Membahas kenapa saya tidak suka dan kenapa dia suka Buah Durian.

“Saya tidak suka Buah Durian, karena aromanya terlalu menyengat. Kemudian saya merasakan sensasi aneh ketika memakan sesuatu dengan aroma yang menyengat. Ditambah dengan effort yang lebih ketika harus memakan Buah Durian.”

“Saya suka Buah Durian karena ya itu buah paling enak dari segala macam buah. Saya bisa menghabiskan dua Buah Durian sekaligus. Memang kamu gak suka Durian? Kamu aneh.”

Paragraf terakhir adalah kalimat dari teman saya yang saya wawancara. Atau kalian bisa <silahkan masukkan alasan kalian suka Buah Durian sendiri di sini>


Mana yang benar?

Keduanya.

Bagi BPD alias Bukan Pencinta Durian, kalimat saya benar. Bagi BP, kalimat mereka benar.

Teori ini menjadi sangat berbahaya jika pengguna teori serta merta menggunakan di semua permasalahan tanpa meilhat konteks yang “ringan”. Jelas berbeda dengan hal yang hitam dan putih terlihat.

Tidak ada kebenaran hakiki dalam teori ini. Karena tujuannya adalah hidup dengan rukun dan damai.

Kamu tidak suka Android? OK. Kamu tidak suka iOS? OK. Tapi tidak perlu saling mencaci-maki di kolom komentar berita. SRSLY.

Kamu tidak suka Yamaha? OK. Kamu tidak suka Honda? OK. Tapi tidak perlu mengolok-olok di kolom komentar blog. SRSLY.

Jika sebuah hal baik, namun hanya karena perbedaan pengalaman, latar belakang, dan sejarah masih-masing individu menangkap sebuah persepsi suatu hal. Bukan kewajiban saya dan kalian “mengoreksi” satu sama lain.

BPD dan BP bisa berjalan berdampingan. Saling menghormati, kalian tidak harus mengelompokkan suatu golongan hanya karena kamu tidak setuju dan kamu setuju.

Mungkin teori saya bukanlah hal spesial, karena seingat saya sudah ada terlebih dahulu dalam Mata Kuliah Filsafat Ilmu yang saya nikmati di kelas. Hanya saja ini adalah cara saya mencerna dengan bahasa universe saya sendiri. Hasil pemahaman dan berpikir sendiri.

“Cogito ergo sum.”


Tujuan saya menciptakan teori sak karepe dhewe sebenarnya sebuah ide untuk hidup damai dengan diri sendiri dan orang lain. Dari waktu ke waktu, saya harus belajar dan berusaha meng-upgrade firmware kepala saya. Bahwa ternyata damainya hati dan pikiran adalah kemewahan yang sebenarnya underrated.

Dan mungkin, dengan bertambahnya usia, saya semakin jauh dengan era saya memperhatikan Mata Pelajaran PPKn dari sebuah sudut bangku.

“Mana yang paling benar?”

Pertanyaan dari awal paragraf artikel ini saya jawab dengan konteks yang cocok dan dengan memakai The Durian Theory, “Yang paling benar, tidak ada. Keduanya benar. Tapi tidak ada yang paling benar.”

Not worth the fight.

Photo by Jim Teo on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s