Rōmusha V2.0

Bekerja tanpa “hari libur”, siapa yang mau? Tanpa ditawari, tanpa sadar saya sudah menjalaninya selama satu tahun penuh. Bagaimana bisa? Hmmm…. Saya baru tersadar pada bulan September kemarin.

Soundtrack untuk post ini:

Memang saya tidak murni tidak pernah libur. Karena saya memiliki hari libur yang fleksibel. Terserah libur hari apa saja. Dan berapa hari yang saya butuhkan tinggal sebut saja beberapa waktu sebelumnya. Tanpa ada potongan gaji. Tetapi nyatanya saya hampir tidak pernah libur untuk diri saya sendiri.

Memang saya berkali-kali tidak masuk kerja. Tetapi itu justru bukan karena kebutuhan saya pribadi. Lebih kepada acara keluarga, atau keperluan yang diluar hari libur yang saya inginkan atau perlukan.

Seandainya saya tidak ada acara-acara itu. Mungkin saya murni nonstop tidak pernah absen masuk kerja. Apa tidak perlu refreshing? Hmmm… sepertinya lebih cocok masuk antrian artikel berikutnya.

Jadi libur saya selama satu tahun terakhir sebatas menghadiri acara kirim doa saudara/keluarga, menghadiri acara ulang tahun keponakan, menghadiri acara ulang tahun salah satu kampus (mungkin akan saya ceritakan di lain waktu), dan ketika sakit pun saya masih menyempatkan diri untuk masuk pada sore harinya.

Apa saja yang saya lakukan? Pada dasarnya saya suka lupa waktu. Ketika dewasa maka kamu akan merasa kekurangan waktu. Terutama untuk saya sendiri.

Terkadang saya lupa bahwa hari ini adalah hari Jum’at. Saya baru tahu kalau hari ini adalah hari Jum’at ketika Masjid sekitar markas besar saya mulai menyiapkan kegiatan shalat Jum’at dan memanggil petugas lewat pengeras suara.

Yang jelas, saya suka lupa hari antara hari Selasa hingga Jum’at. Dan saya juga suka lupa dengan janji (Jangan ditiru) terutama yang mengandalkan hari. Itulah kenapa kalender dan aplikasi To Do List pada gadget saya selalu mengingatkan saya.

Jika boleh dihitung, saya punya 3 pekerjaan sampingan. Eh sebentar, 4 pekerjaan dan kegiatan (atau mungkin sebut saja hobi), yang secara simultan bergantian tiap minggunya. Semacam memiliki total 5 kepribadian. Dan itu adalah hal yang melelahkan.

Saya menjadi sering lupa bahwa saya juga memiliki kehidupan pribadi yang perlu saya rawat. Seperti memperhatikan keluarga. Entah itu Bapak, Kakak, dan Adik. Bahkan mengunjungi makam Ibu saya, jika saya sedang pulang ke rumah. (Maaf Bu).

Lantas, kapan saya tersadar bahwa saya “tidak pernah” libur?

Pada bulan September kemarin, partner kerja saya ada acara keluarga ke Jember. Dan menyarankan saya untuk menutup toko saja. Dan meliburkan diri.

Dan, saat itulah saya merasakan sore hari untuk kali pertama dalam satu tahun terakhir di atas tempat tidur saya. Saya sedikit melamun melihat jendela. Menatap langit sore yang berwarna oranye. Dan saya mengambil nafas panjang.

“Jadi ini rasanya sore hari di kamar?”

“Rōmusha, is a Japanese language word for “laborer”, but has come to specifically denote forced laborers during the Japanese occupation of Indonesia in World War II.”

Tetapi yang saya lakukan bukanlah kerja paksa. Saya melakukannya dengan senang hati. Karena ada banyak cerita kenapa saya sangat fokus dengan apa yang saya lakukan.

Dan, sebenarnya saya sedang melawan virus procrastinator yang selalu menyerang setiap saat. Bulan depan. Mungkin akan saya ceritakan dengan hal-hal yang sedang dan akan saya lakukan selama beberapa waktu ini.

Atau lewat vlog yang terbengkalai? Ha!

Photograph: Mark Cruz

Advertisements

One thought on “Rōmusha V2.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s