Transmission

Sayangnya artikel kali ini bukan mengenai lagu Zedd dengan judul Transmission.

Hari ini adalah tepat satu tahunnya almarhumah Ibu saya meninggal. Salah satu pengalaman yang akan tertanam dengan permanen di kepala saya, bahkan setiap detailnya.

Tetapi saya memilih untuk tidak mengekspos detail cerita. Mungkin belum saatnya. Tahun lalu, saya hampir mem-posting blog yang berisi kesedihan saya mengenai kematian Ibu. Dan saya berusaha untuk tetap stabil, hingga akhirnya memilih untuk tidak dipublish.

Dan saya rasa tulisan waktu itu terlalu gelap.

Bukan berarti saya tidak menerima kematian Ibu saya. Justru saya berpikir itu adalah memang benar-benar pilihan terbaik.

Saya sadar ketika Ibu saya meninggal maka saya harus berpegang teguh pada prinsip, bahwa kematian itu hanya salah satu dari sederet makna dari kehidupan itu sendiri.

Saya tidak menangis menderu dan meronta-ronta. Saya mencoba untuk menahan air mata. Tetapi apa daya, saya hanya manusia biasa. Air mata dari seorang laki-laki akhirnya keluar dengan sendirinya.

God works in mysterious ways.

Saya juga sadar, Tuhan mengerti maksud dari semua misteri yang diberikan kepada saya. Di malam pertama Ibu saya meninggal. Saya berpikir “Apa rencana Tuhan setelah ini?”

Saya mencoba serasional mungkin, meskipun mata ini masih saja mudah berkaca-kaca di sela-sela waktu. Saya terus menerus menunggu “What Next” dari Tuhan. Apakah ada musibah lagi atau gambar gembira?

Ternyata saya sempat mengalami musibah lagi, namun ini masalah pribadi. Yang saya anggap pelajaran yang harus dibayar dengan mahal lewat mata kepala sendiri.

Beberapa pekan saya menjalani aktivitas seperti biasa, seperti naskah drama yang sudah biasa dilakukan. Mencoba normal dan baik-baik saja.

Sesekali ingin saya menekan tombol publish artikel mengenai pengalaman tersebut. Tetapi saya bersyukur bisa memilih untuk menghapusnya dari draft.

Saya mulai bisa menjalani aktivitas biasa setelah hari ke-40. Bagi saya itu adalah patah hati terberat saya setelah sekian dekade.

Dan akhirnya hari demi hari terlewati dengan pelajaran baru. Semua yang saya lewati harus serasional mungkin. Karena saya pernah mengetahui beberapa orang yang melewati kematian semacam “tidak menerima” kehilangan orang yang dicintai. Menangis meronta-ronta dan sumpah serapah dengan berteriak-teriak.

Dan mungkin karena mereka hanya belum mengerti kematian itu sendiri.

Memang, setiap saya kesiangan, sudah tidak ada yang mengomel lagi. Setiap saya pulang ke rumah, tidak akan langkah kaki dari seorang Ibu yang membukakan pintu. Tidak ada lagi suara uleg-an khas Ibu membuat bumbu masakan.

Ketika sakit, tidak harus memanggil Ibu lagi. Dari kecil, saya suka memanggil Ibu ketika sakit. Tetapi ketika Ibu datang ke kamar dan ditanya ada apa. Saya sendiri kebingungan apa mau saya. Hanya merasa dengan adanya Ibu di dekat saya, semuanya akan baik-baik saja, dan akan sembuh hanya dengan usapan Beliau di kepala.

Namun, saya sempat jengkel dengan Ibu saya. Beliau sangat suka jika diantar ke mana-mana. Tetapi ibu tetaplah ibu. Mereka suka mengobrol di tempat belanja. Sedangkan saya harus menunggu, dan berpikir hal lain. Mungkin saya berencana akan pergi keluar, bermain game di PC yang tertunda, atau hal yang lain.

Tapi, kalau saya tahu, bahwa Beliau pergi dengan tiba-tiba seperti itu. Saya tidak akan pernah menolak lagi kalau harus mengantarkan ibu ke mana-mana.

Saya memaknai nilai dari kehadiran seseorang dengan cara yang sangat berat.

Jika kedua orang tua kalian masih ada, ambil HP kalian sekarang. Telpon mereka sekedar menanyakan kabar. Atau jenguk mereka. Kita tidak tahu, masih sempatkah untuk mengucapkan sekedar kata-kata terima kasih.

Jika sempat, saya akan mengucapkan kalau saya beruntung memiliki Ibu seperti Beliau. Beliau sudah saya anggap sukses menjadi seorang ibu.

Saya suka tidak memberi kabar, mungkin karena menganggap semuanya akan baik-baik saja. Kita menjadi tua dan orang tua kita meninggal jika kita tahu memang sudah waktunya. Ternyata tidak seperti itu. Saya tidak sempat mengucapkan sepatah kata apapun untuk mengungkapkan terima kasih.

Jangan sampai terlambat. Saya pernah pergi ke makamnya sendirian. Dan saya tidak sempat membuka mulut atau berdoa lebih lama. Saya harus menyegerakan pergi dari makam. Karena mata saya tiba-tiba buram oleh air mata.

Saya sempat menahan sekuat mungkin dengan mencoba bersenyum. Tetapi kemudian saya pergi dan mengucapkan dengan lantang di dalam hati.. “Maafkan saya Bu, tetapi saya tidak mau menangis di makam Ibu.”


Jika sekarang kalian mengalami pengalaman yang sama. Saya harap kalian bisa menerima sebuah nama, yaitu Kematian. Berteman baiklah dengan kata itu. Usahakan emosi dan kesadaran dalam kondisi stabil. Apresiasi semua dedikasinya untuk diri sendiri. Tiru kebaikannya, dan pelajari kekurangannya.

Menangis adalah milik siapa saja yang memiliki perasaan. Jika ada yang mencoba menahanmu untuk menangis. Hiraukan. Tapi kalian harus tau kapan harus berhenti menangis dan cukup mengekspresikan kesedihan. Karena kamu harus mengusap air matamu sendiri.

God has perfect timing; never early, never late.

It takes a little patience and a whole lot of faith, but it’s worth the wait.

Saya memakai kata “Tuhan” karena lebih bisa diterima di semua agama. Karena di hadapan kematian, kita tidak memiliki perbedaan.

Photo was taken by: Nathan Anderson (USA). Recolored by me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s